Halaman

Kamis, 07 Mei 2020

Sosial Media

Ig : fitri_rmyanti

wa : 085691072402

Ekonomi kreatif

Gula Merah atau Gula Aren 




Gula merah atau gula aren atau gula jawa, adalah sebutan yang sama untuk satu jenis gula yang dihasilkan dari bahan yang sama yaitu dari pohon aren, harganya yang sedikit mahal ini tentu saja sesuai dengan motif ekonomi semakin langka semakin mahal. Itulah yang terjadi pada komoditas  gula merah Cibaliung yang pernah meraih Musium Record Indonesia.

Mengapa menjadi langka? pertama adalah keberadaan batang arennya yang sudah mulai langka, batang aren atau yang orang Cibaliung sebut sebagai “Kaung” itu tidak pernah benar-benar diurus bahkan nyaris tidak pernah ada yang sengaja menanamnya. Kaung tumbuh dan tersebar secara alami melalui hewan “careuh” atau dalam bahasa Indonesia disebut Luwak, belum lagi batangnya yang kerap kali ditebang untuk dijadikan tepung, menyebabkan batang aren semakin langka, dengan pertumbuhan puluhan tahun agar dia dapat di ambil lahangnya.

Yang membuat gula merah ini langka juga karena proses pembuatannya yang membutuhkan waktu yang lama.

Yang paling lama adalah adanya aren yang bisa di ambil lahang nya, butuh waktu puluhan tahun agar batang aren layak untuk diambil lahang atau air nira nya.

Aren yang bisa diambil adalah yang sudah akan berbuah, pada lengan atau tangkai bunga buah aren harus di pukul-pukul atau bahasa orang Cibaliung disebut di “tinggur” dengan kayu khusus, diselingi dengan di ayun-ayun minimal dua kali dalam seminggu, selama berbulan-bulan, jika dirasa cukup maka proses selanjutnya adalah memotong lengan tersebut atau istilah petani adalah “magas” dengan golok khusus.

Dalam proses magas potongan lengan harus di beesihkan dengan menggunakan kulit kayu manggis, setiap kali dipotong yang kemudian air nira tersebut ditampung pada ruas bambu yang disebut “lodong”

Setiap pagi dan sore lodong diganti dan di ambil untuk dimasak, proses memasak air nira supaya jadi gula merah membutuhkan waktu sekitar enam jam, dengan api yang harus menyala besar, untuk memanaskan kenceng yang berisi air nira tersebut. Selanjutnya jika sudah masak dan layak untuk dicetak, maka cairan gula yang sudah mengental itu akan di cetak kedalam batok, dan jika sudah keras akan dibungkus menggunakan daun salak.

Bambu atau lodong yang tadi digunakan juga harus di “puput” proses mengasapi bagian dalam bambu dengan bambu muda yang dibakar atar asapnya masuk kedalam lodong tersebut.
Jangan lupa juga, saringan lodong yang terbuat dari ijuk aren juga harus dibersihkan agar kualitas gula benar-benar bagus.

Proses panjang itulah menjadikan gula merah Cibaliung menjadi luar biasa, dengan kualitas dan manfaat yang luar biasa untuk kesehatan.

Video

untuk video bisa langsung di akses di link berikut:

https://youtu.be/RUNpohsS2Ag

https://youtu.be/NuIyn95fsEk

Foto

Taman Pintar

cibaliung sumber daya


curug 

sumber : https://spi.or.id/galeri-foto-peringatan-haritani-nasional-2015-di-cibaliung-banten

Travel


Cibaliung terdapat harta karun alam yang masih terpendam, yakni wisata curug atau Air Terjun Tilu Nyi Jompong.

Memang jaraknya dekat dari pusat kota Cibaliung untuk menuju wisata itu, karena cukup menempuh perjalanan sekitar 1 kilometer. Meski begitu, kondisi infrastrukturnya masih tanah, dan melintasi hutan belantara. Tetapi suasana alam seperti itu cocok bagi pelancong wisata yang suka melakukan traveling.
Apalagi, selama diperjalanan para wisatawan bisa melihat panorama alam, pepohonan lebat dan ranting-ranting tanaman yang menghiasi jalur menuju wisata tersebut.

Curug Tilu wisata ini tampak eksotis dan menyimpan nilai sejarah. Sebab, warga menyebut Curug Nyi Jompong karena diambil dari sejarah peninggalan zaman Belanda. Dimana waktu itu, ada seorang gadis cantik bernama Nyai Jompong. Gadis cantik yang tidak pernah memamerkan kecantikannya itu sering mandi di curug tersebut. Sebab, curug itu memiliki keindahan alam dan airnya jernih.

“Sampai sekarang, di curug itu terdapat situs berbentuk lithos atau batu berukuran kecil sebagai patilasan Nyi Jompong. Bahkan, ada tapak kuda dan tambang yang dianggap warga itu bekas peninggalan jejak serdadu Belanda. Apalagi saat musim kemarau, air terjun tersebut tidak pernah kering, dan kalau dilihat dari atas curug, kondisi airnya bisa terlihat merah,” kata Kumaedi, anggota dewan Pandeglang asal daerah pemilihan Cibaliung kepada Kabar Banten, Jumat (3/11/2017).

Menurutnya, kalau pemerintah daerah terus mengembangkan potensi Curug Nyi Jompong ini bisa menjadi ‘grand canyon’ Pandeglang. Sebab, air terjun ini memiliki keajaiban alam, salah satunya bisa berubah warna merah jika datang bulan purnama, dan pada musim kemarau. Apalagi curug ini banyak disinggahi traveling asing dari Belanda. “Ya, wisata ini punya nilai sejarah zaman peninggalan belanda, dan sering ada wisata asing berkunjung ke curug ini,” ujarnya.

Seorang pengunjung wisata Curug Nyi Jompong, Aris Himawan mengakui eksotisme alam wisata tersebut. Selain masih murni, air terjun curug itu tampak dingin dan jernih. Bahkan di bawah curug terdapat banyak situs. Di antaranya berbentuk tapak kuda dan tambang yang disebut peninggalan jejak serdadu Belanda.

Apalagi, lokasi wisata ini tak jauh dari Taman Naional Ujung Kulon dan juga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung. Jika wisata ini dikembangkan bisa menjadi alternatif wisata alam yang akan ramai dikunjungi para traveling wisata.  “Ya, dari jalan raya Cibaliung jaraknya hanya 1 kilometer, dan cocok bagi wisatawan yang suka touring menggunakan sepeda motor,” ucapnya.

Kepala Dinas Pariwisata Pandeglang, Salman Sunardi mengatakan, pemerintah sudah memiliki data potensi wisata alam, seperti wisata Curug Nyi Jompong. Wisata curug umumnya menyimpan banyak nilai sejarah, karena terdapat situs peninggalan zaman Belanda dan Jepang. “Sesuai visi agro wisata bisnis, kita akan terus mengembangkan potensi wisata yang ada di Pandeglang. Apalagi saat ini Pandeglang sedang menjadi pusat perhatian pemerintah pusat sebagai salah satu kawasan ekonomi khusus.


sumber : https://mediabanten.com/bumdes-cibaliung-kembangkan-obyek-wisata-batu-nyi-jompong-yang-haid-bulanan/

Sosial dan Budaya


Masyarakat cibaliung rata-rata berprofesi petani, karena lahan pertanian di cibaliung yang melimpah.
Budaya yang ada di cibaliung ini sangat banyak dimana salah satunya adalah budaya tiap tahun perayaan 17 Augustus dengan memameekan segala kekayaan yang ada di cibaliung. Hanya saja budaya di cibaliung kurang di lestarikan dan akhirnya punah.

Potensi Desa

Aparatur Desa Cibaliung bersama anggota Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Kecamatan Cibaliung terus kerja keras berinovasi untuk mengelola potensi pariwisata. Salah satunya, mengembangkan dan menata Curug Nyi Jompong yang merupakan situs sejarah zaman peninggalan Belanda.

Objek wisata curug tersebut tidak saja memiliki keindahan, namun alamnya masih murni dan menyimpan pengetahuan sejarah. Karena, curug tersebut diberi nama Nyi. Jompong karena berasal dari anak desa yang cantik yakni Ny. Jompong. Kepala Desa Cibaliung, Hujaemi mengatakan, objek wisata tersebut cukup terkenal dan setiap hari selalu disinggahi wisatawan lokal. Bahkan jika akhir pekan, banyak pecinta wisata alam dari luar Pandeglang berdatangan ke lokasi.

Menurut Kades Hujaemi, saat ini kehadiran BUMDes di bawah kepemimpinan Endin Mohamad Nurdin cukup maju. Badan usaha ini sudah memiliki koperasi simpan pinjam, termasuk memfasilitasi masyarakat untuk membayar listrik, setoran kredit motor dan lainnya. “Sekarang BUMDes ini sedang mengembangkan Curug Nyi Jompong dengan suntikan anggaran dari dana desa atau DD sebesar Rp 40 juta,” ujar Hujaemi kepada Kabar Banten, Ahad (4/3/2018).

BUMDes yang dikelola dengan manajemen baik mampu untuk menata objek wisata curug. Karena dalam manajemen itu ada tim analisis, tim administrasi. Sehingga secara bertahap Curug Nyi Jompong yang sedang dikelola akan maju. “Kami sudah launching pengembangan dan penataan objek wisata Nyi. Jompong. Upaya promosi sedang dilakukan melalui media daring atau dalam jaringan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur BUMDes Desa Cibaliung, Endin Mohamad Nurdin mengatakan, saat ini sedang bekerja keras mengembangkan badan usaha desa untuk kemakmuran masyarakat. BUMDes yang dikelolanya kini menjadi tumpuan masyarakat. Sebab, kehadiran badan usaha desa mampu memberikan simpan pinjam untuk pengembangan usaha masyarakat.

Sehingga masyarakat yang punya keahlian bisa mewujudkan usahanya dengan suntikan modal dari BUMDes. “Sekarang kita sedang genjot sektor pariwisata desa. Kami punya objek wisata terindah, yakni Curug Nyi Jompong. Di curug ini banyak benda zaman megalitikum atau zaman batu. Di lokasi juga terdapat batu mirip tapal kuda bekas serdadu Belanda,” ucapnya.

Ia mengatakan, sejarah mencatat bahwa jejak tapal kuda dan sepatu serdadu Belanda ada di curug tersebut. Karena saat itu para serdadu Belanda sedang mengejar wanita desa bernama Nyi Jompong. “Ya, curug ini mengandung sejarah. Kami tertarik untuk mengembangkan objek wisata ini. Apalagi jaraknya dekat dengan pusat kKcamatan Cibaliung. Kami optimistis, curug ini akan menjadi andalan wisata di Cibaliung,” tuturnya.

Objek wisata tersebut merupakan potensi pendapatan desa. Karenanya, BUMDes bersama aparatur desa akan menata destinasi wisata tersebut. “Objek wisata ini mampu menghasilkan pemasukan untuk pendapatan desa sebesar 35 persen. Wisata ini dikelola oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Pesona Sinar Nyi. Jompong,”



sumber : https://www.kabar-banten.com/bumdes-cibaliung-kelola-curug-nyi-jompong/

Kata mutiara

"orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah"
pramoedya ananta  toer, rumah kaca

Identitas

Nama : Fitri
kelas : 2A PKN
Administrasi Publik

Demografis

Secara  umum Desa cibaliung memiliki kemiringan lereng sebesar 6-25% dengan penggunaan lahan yang didominasi oleh lahan pertanian dengan perin- cian pertanian lahan kering seluas 14804 ha, lahan pertanian sawah seluas 9309,87 ha, dan pertanian lahan kering campuran seluas 14073,83 ha. Cibaliung  memiliki luas wilayah 1.692 km2 (62 persen dari luas Kabupaten Pandeglang). Dengan tingkat kepadatan penduduk rata-rata 146 jiwa per km2.


Rabu, 06 Mei 2020

Geohistoris

Asal usul nama Desa Cibaliung berasal dari dua kata, yaitu Ci dan Baliung. Dalam Bahasa Sunda kata “Ci” yang berarti Cai atau Air dalam Bahasa Indonesia, yang disingkat menjadikata “Ci”. Sedangkan “Baliung” adalah perkakas tukang kayu untuk mengelupas ( mapas ) kayu gelondongan agar rata dan berbentuk persegi sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Baliung terbuat dari besi baja tempaan,bentuknya menyerupai pahat tapi lebih besar dan lebarserta tidak memanjang. Besarnya hamper sama dengan bawak pacul.Peredahnya ( gagangnya) panjang bulat dan bentuknya hamper sama dengan doran pacul ( gagangcangkul ) dan sama-sama dibuat dari kayu. Hanya pangkalnya yang berbeda. Puhu ( pangkal ) peredah dibungkus dengan kulit munding ( kulit kerbau ) sehingga peredah seperti memakai sepatu yang berlubangdidepannya. Lubang itu tempat masuk unting, yaitu bubuntut ( ekor ) Baliung, ketika Baliung dipasang pada peredah.Dengan cara memasukan unting ke lubang sangkal, ialah pembungkus pangkal peredah dari kulit kerbau itu, maka posisi Baliung bisa diatur; apakah posisinya akan seperti Rimbas ( dalam posisi seperti cangkul ) atau dalam posisi seperti kapak atau patik maka fungsinya jadi alat penebang, penakik, atau pemotong pohon.




Kehidupan Normal Baru

Nama   : FITRI NIM     : 6661190006 Kelas    : 2A Pendidikan kewarganegaraan Pandemi Covid-19 belum juga bisa dikatakan berakhir.  Nam...